Loading...

Sabtu, 12 November 2011

Penguasaan Tanda Baca dalam Menulis Surat Pribadi Siswa MTs. Nurul Hidayah Kerta Kelas VIII Tahun Pelajaran 2010/2011.”


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Salah satu fungsi bahasa Indonesia adalah sebagai alat komunikasi dan interaksi antara anggota masyarakat, yang bisa digunakan baik secara lisan maupun tulisan.  Penggunaan kedua cara komunikasi tersebut bergantung pada situasi komunikasi.  Apabila situasi tersebut tidak mungkin dilakukan secara lisan, maka komunikasi tersebut dapat dilakukan secara tulisan.
Komunkasi lisan terjadi secara dua arah dengan adanya interaksi antara komunikan dan partisipan, dengan begitu segala gerak anggota tubuh yang menyertai pembicaraan seperti intonasi, mimik, dan gerak gerik tubuh si komunikan dapat dilihat secara langsung oleh partisipan sehingga dapat memahami isi pembicaraan dengan mudah.  Berbeda dengan komunikasi tertulis, situasi komunikan tidak dapat dilihat oleh partisipan.
Dari kedua cara komunikasi tersebut, komunikasi secara tertulislah yang dianggap penulis Pling sulit, terutama dalam memehami pesan yang disampaikan karena partisipan tidak dapat berinteraksi secara langsung dengan komunikan.  Oleh kaena itu pihak komunikan (penulis) harus memiliki keterampilan menulis dengan kaidah tata tulis atau ejaan untuk mempertegas situasi komunikasi dengan menggunakan tanda baca.  HG. Tarigan (1986: 2) mengartikan “Ejaan adalah cara atau aturan untuk menuliskan kata-kata dengan huruf menurut disiplin ilmu bahasa. Tinjauan lain tentang ejaan adalah bentuk akhir bahasa yang ditandai oleh lambang bunyi”.  Sedangkan tanda baca adalah tanda yang dipakai dalam sistem ejaan   (KBBI, 2008: 1393). Tanda baca tersebut meliputi tanda titik, tanda koma, tanda petik, tanda hubung, tanda seru, tanda tanya dan sebagainya.
Penggunaan tanda baca telah diatur dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD).  EYD tersebut telah dikenalkan kepada masyarakat pengguna bahasa pada tahun 1978 dengan tujuan untuk dijadikan pedoman dalam penggunaan ejaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.  Namun, sejak dua puluh tahun diresmikannya, penulis masih menemukan banyak kesalahan dalam penggunaan ejaan tersebut terutama dalam bentuk tulisan.  Kesalahan tersebut sering kita jumpai dalam redaksi surat menyurat, karangan ilmiah, artikel, surat kabar, dan tulisan-tulisan lainnya. Temuan tersebut menunjukan bahwa masih lemahnya pengetahuan serta keterampilan menulis dengan menggunakan kaidah Tata Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Dalam penelitian ini penulis mengambil kasus kesalahan dalam menulis surat.   “Surat adalah alat  komunikasi tertulis untuk menyampaikan informasi atau pernyataan dari suatu pihak kepada pihak lain. Informasi ini dapat berupa pemberitahuan, pernyataan khusus, laporan, dan sebagainya. Dengan perantaraan surat, setiap orang dapat langsung berkomunikasi dengan sesamanya tanpa harus bertatap muka terlebih dahulu (T. Manurung dan Bagas Pratama, 2004: 9).
 Jenis surat yang diambil sebagai bahan penelitian adalah surat pribadi yang ditulis siswa MTs. Nurul Hidayah Kerta kelas VIII Tahun Pelajaran 2011.  Thomas Wiyasa (dalam Atikah Anindyarini dan Sri Ningsih, 1987: 64) mendefinisikan “Surat pribadi adalah surat yang ditulis seseorang kepada orang lain atau kepada sebuah instansi/lembaga”.  Surat pribadi adalah jenis surat yang digunakan antar perorangan untuk saling berkomunikasi, syrat ini bersifat santai dan bahasa yang digunakannya pun berbeda dengan jenis surat lainnya.  Biasanya surat ini dipakai untuk memberikan kabar berita kepada keluarga, sahabat, dan bahkan digunakan untuk berkenalan.  Meskipun surat ini bersifat santai, kekeliruan dalam penggunaan tanda baca akan mempengaruhi isi pesan yang ingin disampaikan oleh sipenulis.
Penulis sering menemukan kesalahan-kesalahan tersebut seolah-olah menjadi suatu kebiasaan,  yang akhirnya menjadi sutatu penyimpangan kaidah dari tujuan pedoman umum Ejaan Yang Disempurnakan, dan hal yang paling        mengherankan, keadaan ini seakan tidak dipermasalahkan bagi pihak yang berkepentingan dalam hal ini baik pemerintah maupun Dinas Pendidikan untuk berupaya mencari pemecahan masalah tersebut.
Menyadari akan masalah diatas dan untuk mengetahui lebih lanjut mengenai keterkaitan tanda baca dalam menulis surat pribadi, untuk itu penulis mengajukan sebuah judul penelitian yaitu: “Pengaruh Penguasaan Tanda Baca dalam Menulis Surat Pribadi Siswa MTs. Nurul Hidayah Kerta Kelas VIII Tahun Pelajaran 2010/2011.”
B.     Identifikasi Masalah
Berdasarkan  latar belakang diatas, maka penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana penguasaan tanda baca siswa MTs. Nurul Hidayah Kerta Kelas VIII Tahun Pelajaran 2010/2011?
2.      Sejauhmana kesalahan penggunaan tanda baca siswa MTs. Nurul Hidayah Kerta Kelas VIII Tahun Pelajaran 2010/2011?
3.      Apakah faktor kesalahan penggunaan tanda baca siswa MTs. Nurul Hidayah Kerta Kelas VIII Tahun Pelajaran 2010/2011?
4.      Bagaimana kemampuan menulis surat pribadi siswa MTs. Nurul Hidayah Kerta Kelas VIII Tahun Pelajaran 2010/2011?
5.      Sejauhmana kesalahan dalam menulis surat pribadi siswa MTs. Nurul Hidayah Kerta Kelas VIII Tahun Pelajaran 2010/2011?
6.      Apakah faktor kesalahan menulis surat pribadi siswa MTs. Nurul Hidayah Kerta Kelas VIII Tahun Pelajaran 2010/2011?
7.      Apakah ada pengaruh penguasaan tanda baca dalam menulis surat pribadi siswa MTs. Nurul Hidayah Kerta Kelas VIII Tahun Pelajaran 2010/2011?
C.    Batasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah diatas, maka penulis membatasi beberapa masalah sebagai berikut:
1.                          Penggunaan tanda baca.
2.                          Kemampuan menulis surat pribadi.
3.                          Pengaruh penguasaan tanda baca dalam menulis surat pribadi.
D.    Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1.      Bagaimana penguasaan tanda baca siswa MTs. Nurul Hidayah Kerta Kelas VIII Tahun Pelajaran 2010/2011?
2.      Bagaimana kemampuan menulis surat pribadi siswa MTs. Nurul Hidayah Kerta Kelas VIII Tahun Pelajaran 2010/2011?
3.      Bagaimana pengaruh penguasaan tanda baca dalam menulis surat pribadi siswa MTs. Nurul Hidayah Kerta Kelas VIII Tahun Pelajaran 2010/2011?
E.     Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui penguasaan tanda baca siswa MTs. Nurul Hidayah Kerta Kelas VIII Tahun Pelajaran 2010/2011.
2.      Untuk mengetahui kemampuan menulis surat pribadi siswa MTs. Nurul Hidayah Kerta Kelas VIII Tahun Pelajaran 2010/2011.
3.      Untuk mengetahui hubungan penguasaan tanda baca dalam menulis surat pribadi siswa MTs. Nurul Hidayah Kerta Kelas VIII Tahun Pelajaran 2010/2011.
F.     Kegunaan Hasil Penelitian
Kegunaan hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak, antaralain:
1.      Bagi penulis, dapat mengetahui sejauhmana penguasaan tanda baca dalam menulis surat pribadi siswa MTs. Nurul Hidayah Kerta Kelas VIII Tahun Pelajaran 2010/2011.
2.      Bagi sekolah, sebagai bahan masukan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran disekolah.
3.      Bagi guru, dapat menambah wawasan dan bahan evaluasi dalam pembelajaran siswa.
4.      Bagi siswa, dapat menambah pemahaman mengenai penggunaan tanda baca dalam menulis surat pribadi.



















BAB II
KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR,
 DAN HIPOTESA

A.    Kajian Teori
1.      Menulis Surat Pribadi
a.      Pengertian Menulis
“Menulis merupakan kegiatan melahirkan pikiran atau perasan dengan tulisan” (KBBI, 2008: 1497). Suparno dan Mohamad Yunus (2007: 29) mendefinisikan bahwa “Menulis adalah kegiatan komunikasi berua penyampaian pesan secara tertulis kepada pihak lain. Aktivitas menulis melibatkan unsur penulis sebagai penyampai pesan dan pembaca sebagai penerima pesan”. Dengan begitu menulis merupakan keterampilan berbahasa yang didefinisikan sebagai kegiatan menyampaikan informasi atau pesan dalam berkomunikasi tidak langsung dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya.
b.      Definisi Surat
Surat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas manusia pada zaman modern ini. Didorong oleh tuntutan kebutuhan ekonomi dan sosialnya, manusia menjalin hubungan yang semakin luas dengan berbagai individu, baik yang berada disekitarnya maupun ditempat lain.
Surat adalah alat  komunikasi tertulis untuk menyampaikan informasi atau pernyataan dari suatu pihak kepada pihak lain. Informasi ini dapat berupa pemberitahuan, pernyataan khusus, laporan, dan sebagainya. Dengan perantaraan surat, setiap orang dapat langsung berkomunikasi dengan sesamanya tanpa harus bertatap muka terlebih dahulu (T. Manurung dan Bagas Pratama, 2004: 9).

 Menulis surat tidak menuntut keahlian seperti seorang  pengarang novel, puisi, cerpen, atau karya sastra lainnya karena surat bukanlah sebuah karya sastra.  Sekalipun demikian, menyusun surat yang baik tidaklah sesederhana yang sering dibayangkan orang karena ada aturan dan kebiasaan tertentu yang harus dipenuhi.
Surat berfungsi sebagai alat komunikasi tertulis untuk menyampaikan pesan atau informasi dari satu pihak kepada pihak lain. Karena itu, surat juga berfungsi mencerminkan citra atau wibawa pihak pengirim.  Surat dapat menggambarkan citra diri atau kualitas penulisnya, karena dapat dibaca berulang-ulang oleh pihak penerima, dalam menulis surat harus diusahakan agar memberi kesan yang baik dalam benak sipenerima.
Surat yang baik adalah surat yang menggunakan bahasa yang baik, tidak kasar atau menyinggung perasaan orang lain, serta dalam penulisannya menggunakan tata tulis atau ejaan bahasa Indonesia yang berlaku dengan menghindari penggunaan singkatan kata, coretan, atau tambahan pada surat. (T. Manurung dan Bagas Pratama, 2004: 9).

Isi dalam surat tidak perlu panjang lebar, bahasa yang efektif, efisien dan lugas tetapi sopan jauh lebih mudah dipahami dan mengesankan. Bentuk surat pun harus disesuaikan dengan isi, pesan dan tingkat urgensinya.

c.       Bahasa Surat
T. Manurung dan Bagas Pratama (2004: 31) menjelaskan “Surat merupakan sebuah karangan yang memiliki topik atau pokok masalah yang ingin disampaikan oleh sipenulis kepada penerima surat”.
Dalam menulis surat, bahasa atau kalimat yang digunakan harus jelas dan efisien supaya pembaca dapat memahami pesan dari surat tersebut dengan sekali baca. Oleh karena itu penulisan surat senantiasa harus menghindari kalimat yang ambigu atau bermakna ganda.  Suatu kalimat dapat dikatakan baik bila kalimat itu dapat mewakili satu kesatuan ide pokok, karena itu hendaknya kalimat yang digunakan adalah kalimat efektif yang memperlihatkan kesatuan ide pokok dan penghematan penggunaan kata yang tidak perlu.
d.      Jenis-jenis Surat
            Berdasarkan isinya, surat terdiri atas:
1.      Surat Pribadi
2.      Surat Resmi
3.      Surat Niaga
      Berdasarkan maksud dan tujuannya, surat terbagi atas:
1.      Surat pemberitahuan
2.      Surat perintah
3.      Surat permintaan
4.      Surat peringatan
5.      Surat panggilan
6.      Surat penegasan
7.      Surat keputusan
8.      Surat laporan
9.      Surat perjanjian
10.  Surat penawaran
11.  Surat pesanan
12.  Surat tuntutan
13.  Surat pengantar
14.  Surat lamaran
15.  Surat tugas
e.       Definisi Surat Pribadi
            Thomas Wiyasa (dalam Atikah Anindyarini dan Sri Ningsih, 1987: 64) mendefinisikan “Surat pribadi adalah surat yang ditulis seseorang kepada orang lain atau kepada sebuah instansi/lembaga”. Surat pribadi terdiri atas dua jenis yaitu surat pribadi yang bersifat perorangan dan surat pribadi yang bersifat resmi.
      Surat pribadi yang bersifat perorangan adalah surat yang ditulis seseorang kepada seorang sahabat, saudara, atau orang tua. Sedangkan surat pribadi yang bersifat resmi adalah surat yang ditulis seseorang yang ditujukan kepada suatu organisasi atau lembaga. Penulisan surat pribadi tersebut berbeda, terutama dari segi bahasa yang digunakan bersifat resmi daripada penulisan surat pribadi yang bersifat perorangan yang cenderung lebih santai dan tidak kaku.
f.       Sistematika Penulisan Surat Pribadi
      Penulisan surat pribadi berbada dengan penulisan surat dinas dan surat niaga yang harus menggunakan kertas surat yang dilengkapi dengan kepala surat dan stempel atas nama instansi/lembaga yang mengirim surat.
            Sistematika penulisan surat pribadi adalah:
1.      Pembuka
a)      tempat dan tanggal pengiriman surat
b)      alamat surat
c)      salam pembuka
2.      Isi yaitu berisi maksud dan tujuan penulisan surat
3.      Penutup
a)      salam penutup
b)      tanda tangan penulis
c)      nama jelas penulis
2.      Penguasaan Tanda Baca
a.   Pengertian Ejaan
Ditinjau secara logis, ‘Ejaan adalah cara atau aturan menuliskan kata-kata dengan huruf.  Secara umum ejaan adalah system pengaturan tentang simbol-simbol bunyi bahasa, baik yang berkaitan dengan sambungan, pemisahan, dan perhentian didalam suatu bahasa‘ Farid (dalam Tim Bahasa Indonesia, 1997: 77).
Sejalan dengan pengertian diatas, Badudu (1986: 2) memberi “Batasan ejaan sebagai fonem”. Sedangkan HG. Tarigan (1986: 2) mengartikan “Ejaan adalah cara atau aturan untuk menuliskan kata-kata dengan huruf menurut disiplin ilmu bahasa. Tinjauan lain tentang ejaan adalah bentuk akhir bahasa yang ditandai oleh lambang bunyi.” Dengan hal ini “Ejaan memudahkan orang untuk mengetahui apa yang dilisankan oleh seseorang” (Saepudin, 1973: 23).
Lebih jauh Keraf (1976: 50-51) menjelaskan bahwa yang dimaksud ”Ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana mengggambarkan lambang-lambang bunyi ujaran dan bagaimana inter-relasi lambang-lambang itu dalam suatu bahasa”.
Ejaan suatu bahasa tidak saja pada persoalan bagaimana melambangkan bunyi-bunyi ujaran serta bagaimana mendapatkan tanda-tanda baca  dan sebagainya, tetapi meliputi juga hal-hal seperti bagaimana memotong suku kata, bagaimana menggabungkan kata dengan imbuhan, maupun antar kata dengan kata. Pemotongan itu berguna terutama kita harus memisahkan huruf-huruf pada akhir baris apabila tidak mungkin untuk menuliskannya disana.
b.      Pengertian Tanda Baca
“Tanda baca adalah tanda yang dipakai dalam sistem ejaan”  (KBBI, 2008: 1393). Tanda baca merupakan lambang yang digunakan dalam kegiatan menulis  untuk menentukan sebuah intonasi dalam wacana tulis  agar seseorang dapat memahami pesan yang disampaikan meskipun tanpa melihat ekspresi dari orang yang menulis pesan tersebut.
c.   Pemakaian Tanda Baca
Pemakaian tanda baca telah diatur oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan diresmikan pemakaiannya oleh SK Meteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0543a/U/1987.
Tanda baca yang menjadi perhatian penulis adalah tanda titik (.), tanda koma (,), tanda hubung (-), tanda petik (“….”), tanda tanya (?) dan tanda seru (!).
1.   Tanda Titik (.)
a)   Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaaan dan seruan.
                              Misalnya: Ayahku tinggal di Solo.
              Biarlah mereka duduk disana.
b)   Tanda titik dipakai dibelakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.
                              Misalnya: BAB I. Pendahuluan
A.    Latar belakang
B.     Rumusan masalah
c)Tanda titik digunakan untuk memisahkan angka jam, menit dan detik yang menunjukkan waktu.
                              Misalnya: Pukul 06.45.25
d)     Tanda titik digunakan diantara nama penulis, judul tulisan, dan tempat terbit dalam daftar pustaka.
Misalnya: Siregar, Merari.1920. Azab dan Sengsara.            Weltevreden : Balai Poestaka.
e)Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.
Misalnya: Desa itu berpenduduk 24.542 orang.
2.   Tanda Koma (,)
a)      Tanda koma dipakai diantara unsure-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.
Misalnya: Saya membeli kertas, pena, spidol dan tinta.
b)  Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat berikutnya yang didahului oleh kata seperti, tetapi atau melainkan.
         Misalnya: Saya ingin datang, tetapi hujan besar sekali.
                    Ia tidak bodoh, melainkan ia anaknya malas.
c)      Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat mendahului induk kalimat.
      Misalnya: Kalau hari hujan, saya tidak akan datang
d)     Tanda koma dipakai dibelakang kata atau ungkapan penghubung antar kalaimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk didalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi.
      Misalnya: ….Oleh karena itu, kita harus waspada
              ….Jadi, masalahnya tidak semudah itu
e)      Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan, dari kata yang lain yang terdapat dalam kalimat.
Misalnya:  O, begitu?
                           Wah, bukan main!
                           Hati-hati, ya! Nanti jatuh.
f)       Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian dalam kalimat.
      Misalnya: kata Ibu, “Saya gembira sekali.”         
        “Saya gembira sekali,” kata Ibu
g)      Tanda koma dipakai diantara nama dan alamat, bagian-bagian alamat, tempat dan tanggal, dan nama tempat dari wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
Misalnya: Surat-surat ini dialamtkan kepada Dekan FKIP,    Universitas Indonesia, Jalan Raya Salemba 6, Jakarta.
h)      Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
      Misalnya: Alisjahbana, Sutan Takdir. 1949. Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia. Jilid 1 dan 2. Djakarta: PT Pustaka Rakjat.
i)        Tanda koma dipakai diantara bagian-bagian dalam catatan kaki.
      Misalnya: W.J.S. Poerwadarmiminta, Bahasa Indonesia untuk Karang-mengarang (Yogyakarta: UP Indonesia, 1967) hlm. 4.
j)        Tanda koma dipakai diantara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.
      Misalnya: B. Ratulangi, S.E.
k)      Tanda koma dipakai dimuka angka persepuluh atau diantara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.
      Misalnya: 12,5 m
                        Rp 12,50
l)        Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi.
         Misalnya: Guru saya, Pak Ahmad, pandai sekali.
m)    Tanda koma dipakai untuk menghindari salah baca di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.
      Misalnya: Dalam pengembangan dan pembinaan bahasa, kita memerlukan sikap yang sungguh-sungguh.
3.   Tanda Hubung (-)
a)Tanda hubung dipakai untuk menghubungkan suku-suku kata dasar yang terpisah oleh penggantian baris.
Misalnya: Disamping ada cara-cara lama, ada ju-
      ga cara baru yang lebih epektif          
b)      Tanda hubung dipakai untuk menyambungkan awalan dengan bagian  kata dibelakangnya atau akhiran dengan bagian kata didepannya pada pergantian baris.
Misalnya: Kini ada cara baru untuk meng-
     ukur panas.
c)Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.
Misalnya: anak-anak, rumah-rumah, buku-buku
d)     Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagfian tanggal.
Misalnya: p-a-n-i-t-i-a
     8-4-1997
e)Tanda hubung dipakai untuk memperjelas, hubungan bagian-bagian kata atau ungkapan, dan penghilang bagian kelompok kata.
Misalnya: ber-evolusi, kesetiakawanan-sosial
f)       Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital, ke- dengan angka, angka dengan –an, singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan nama jabatan rangkap.
Misalnya: se-Indonesia, se-Jawa barat, hadiah ke-3, tahun 50-   an, mem-PHK-kan, hari-H, sinar-X, Menteri-Sekretaris Negara.
g)      Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.
Misalnya: di-smash, pen-tackle-an
4.      Tanda Petik (“…”)
a)Tanda petik dipakai untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain.
Misalnya: “Saya belum siap,” kata Maria”tunggu  sebentar!”
      Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, “Bahasa Negara adalah bahasa Indonesia.”
b)      Tanda petik dipakai untuk mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.
Misalnya: Sajak “Berdiri Aku” terdapat pada halaman 5 buku itu.
c)      Tanda petik dipakai untuk mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal, atau kata yang mempunyai arti khusus.
Misalnya: Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara “coba dan  ralat” saja.
d)     Tanda petik penutup dipakai untuk mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.
Misalnya: Kata Tono, “Saya juga minta satu.”
e)Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan dibelakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat.
Misalnya: Karena warna kulitnya, Budi mendapat  julukan “Si Hitam”.
5.      Tanda Tanya (?)
a)Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.
Misalnya: Kapan ia berangkat?
b)      Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.
Misalnya:  Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang.
6.      Tanda Seru (!)
   Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidskpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat.
                           Misalnya: Bersihkan kamar itu sekarang juga!
B. Kerangka Berpikir
            “Menulis adalah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang untuk menghasilkan tulisan dengan melahirkan pikiran atau perasaan dengan huruf” (Monica Abigail W.A (2008).  Keterampilan menulis yang baik harus memenuhi kaidah ejaan dalam tata bahasa Indonesia dengan penggunaan tanda baca yang tepat.  “Tanda baca adalah tanda yang dipakai dalam system ejaan”   (KBBI, 2008: 1393).
            Surat pribadi berfungsi sebagai alat komunikasi tertulis untuk menyampaikan pesan atau informasi dari satu pihak kepada pihak lain,  dengan  menulis surat  sama artinya  berkomunikasi dengan orang lain secara tidak langsung yang tidak melibatkan ekspresi si penutur, sehingga partisipan tidak dapat menangkap ekpresi dan suasana komunikasi dengan jelas, dengan begitu dalam penulisan surat kita harus benar-benar menguasai tanda baca dalam kaidah ejaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Berdasarkan uraian diatas maka penguasaan tanda baca sangat penting dimiliki seseorang karena dapat mempengaruhi kualitas penulisan surat pribadi orang tersebut. Dengan penggunaan tanda baca yang tepat, penerima surat akan memahami suasana dan pesan yang disampaikan oleh penulis surat meskipun tidak melihat ekspresi penulis surat secara langsung.       
C. Hipotesis
           Berdasarkan kerangka berfikir diatas, maka penulis merumuskan hipotesis sebagai berikut:  
  1. Penguasaan tanda baca siswa MTs. Nurul Hidayah Kerta Kelas VIII Tahun Pelajaran 2010/2011 cukup baik.
  2. Kemampuan menulis surat pribadi siswa MTs. Nurul Hidayah Kerta Kelas VIII Tahun Pelajaran 2010/2011 cukup baik.
  3.  Terdapat hubungan positif antara penguasaan tanda baca dengan kemampuan menulis surat pribadi siswa MTs. Nurul Hidayah Kerta Kelas VIII Tahun Pelajaran 2010/2011.
                       







BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian
      Tempat penelitian yang diambil yaitu di MTs. Nurul Hidayah Kerta Kecamatan Banjarsari Kabupaten Lebak.  Penulis sengaja memilih sekolah ini karena belum ada penelitian yang meneliti tentang penguasaan tanda baca siswa, padahal penguasaan tanda baca sangatlah penting dimiliki seseorang untuk menghasilkan tulisan yang berkualitas.
Adapun waktu penelitian dilaksanakan pada tanggal 28 maret sampai dengan 27 April 2011.  Penulis sengaja memilih waktu tersebut  karena kegiatan belajar mengajar di MTs Nurul Hidayah Kerta kembali efektif setelah siswa diliburkan karena kelas IX menghadapi kegiatan UAMBN, UAM dan UAS.  Selain itu, pada tanggal tersebut peneliti sedang belajar tentang panduan penulisan karya ilmiah sehingga jika terdapat kesulitan dalam penelitian ini, dapat langsung bertanya terhadap dosen yang bersangkutan.
B. Populasi Dan Tekhnik Pembuatan Sampel
1.  Populasi
“Populasi penelitian adalah keseluruhan dari subjek penelitian” (Arikunto, 1997: 102). Sementara itu menurut Sugiyono (2008: 80) “Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas subjek - subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk kemudian dipelajari dan ditarik kesimpulan”.
Berdasarkan kedua pendapat diatas, maka populasi yang penulis ambil dari sekolah tersebut adalah seluruh siswa kelas VIII yang berjumlah 80 orang yang terbagi menjadi dua kelas, yaitu kelas VIII A berjumlah  40 siswa dan kelas VIII B berjumlah 40 siswa. Adapun pemetaan jumlah siswa kelas VIII tampak seperti pada table 3.1 berikut ini:
Tabel 3.1
Populasi Penelitian
No
Kelas
Jemis Kelamin
Jumlah
Laki-laki
Perempuan
1
VIII A
17
23
40
2
VIII B
19
21
40
Jumlah
36
44
80

2.   Sampel
“Sampel adalah bagian dari jumlah dan karaktristik yang dimiliki oleh populasi  tersebut” (Sugiyono, 2008: 81)
Menurut Arikunto (2006: 134) “Jika objek berjumlah kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi.  Selanjutnya jika subjeknya besar, maka dapat diambil antara 10% sampai dengan 15% atau 20% sampai dengan 25% atau lebih”.
Beranjak dari pendapat  Suharsimi Arikunto tersebut, maka penulis mengambil semua populasi menjadi sampel yaitu 80 orang dan penelitian ini menjadi penelitian populasi yang dibagi menjadi dua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol.


C. Metode Penelitian
Pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran terhadap fenomena sosial maupun alam.  Meneliti dengan data yang sudah ada lebih tepat kalau dinamakan membuat laporan daripada melakukan penelitian. Namun demikian, dalam skala yang lebih rendah laporan juga dapat dinyatakan sebagai bentuk penelitian.
Menurut Ruseffendi (Farida, 2011: 40) ‘penelitian yang bertujuan melihat hasil pada variabel terikat yang merupakan akibat perlakuan terhadap variabel bebas dinamakan penelitian eksperimen’. Jadi, pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah  pendekatan eksperimen.
D. Tekhnik Pengumpulan Data
                     Terdapat dua hal utama yang mempengaruhi kualitas data hasil penelitian yaitu kualitas instrumen penelitian dan kualitas pengumpulan data.  Kualitas Instrumen penelitian berkenaan dengan validitas dan reabilitas sedangkan pengumpulan data yang berkualitas berkenaan dengan ketepatan cara-cara yang digunakan untuk mengumpulkan data. Data dalam penelitian bersumber dari interaksi guru dan siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dan berupa tindakan data yang mengajar.  Adapun pengambilan data dilakukan dengan cara tes.
Tes tersebut diberikan pada saat postes dan pretes yang ditujukan kedalam dua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol.  Pretes dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal yang dimiliki siswa baik kelas eksperimen maupun kelas kontrol.  Pretes dilakukan pada awal pertemuan sedangkan postes dilaksanakan pada pertemuan akhir dengan menggunakan instrumen penelitian.
E. Instrumen Penelitian
Sugiyono (2009: 102) mengungkapkan yang dimaksud dengan “Instumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati”.
Instrumen dalam penelitian ini berupa tes kemampuan menulis surat pribadi siswa dengan menggunakan tanda baca yang baik dan benar yang diberikan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol.
1.      Definisi Konseptual
a.   Kemampuan Menulis Surat Pribadi
   Kemampuan menulis surat pribadi adalah kemampuan siswa dalam menulis surat pribadi secara sistematis, pemilihan kata yang baik, kesatuan ide pokok, dan penggunaan kalimat efektif sehingga pesan yang disampaikan dapat dipahami oleh pembaca.
b.  Penguasaaan Tanda Baca
Penguasaan tanda baca yang baik dan benar adalah kemampuan siswa dalam berkomunikasi secara tidak langsung dalam komunikasi secara tertulis. Dengan menggunakan tanda baca yang tepat sesuai kaidah penggunaan tanda baca dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan, maka pesan yang disampaikan akan mudah dipahami sesuai situasi komunikasi yang terjadi.

2.      Definisi Operasional
a.      Kemampuan Menulis Surat Pribadi
Kemampuan menulis surat adalah skor nilai yang diperoleh dari tes menulis surat pribadi yang mencakup kemampuan menuangkan gagasan, pesan dalam bentuk surat pribadi yang disusun secara sistematis dengan menggunakan pilihan kata dan kalimat efektif bertujuan agar pesan yang disampaikan dapat dipahami oleh pembaca.
Tabel 3.2
Kisi-kisi tes Kemampuan Menulis Surat pribadi

No.

Unsur Tes

Bobot Maksimum
1.
Sistematika Penulisan Surat Pribadi
b. Tanggal Surat
c.  Alamat Surat
d.                                                                                                                                   Pendahuluan / Salam Pembuka
e.  Isi Surat
f.  Penutup
g. Nama Pengirim
h. Tanda Tangan

5
5
5
5
5
5
5
2.
Pilihan Kata
10
3.
Pesan yang disampaikan
15
4.
Kesatuan Ide Pokok
20
5.
Kalimat Efektif
20
Jumlah
100




b.      Penguasaan Tanda Baca
Penguasaan tanda baca adalah skor  nilai dalam penggunaan tanda baca dalam berkomunikasi secara tidak langsung dalam menulis surat pribadi sesuai dengan kaidah penggunaan tanda baca dalam  Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang  Disempurnakan.
Tabel 3.3
Kisi-kisi tes Kemampuan Menulis Surat pribadi

No.

Unsur Tes

Bobot Maksimum
1.
Penggunaan Tanda Baca
a.  Tanda Titik  (.)
b. Tanda Koma (,)
c.  Tanda hubung (-)
d.                                                                                                                                                   Tanda Petik (“…”)
e.  Tanda Tanya (?)
f.  Tanda Seru (!)

10
10
10
10
10
10
2.
Penggunaan Huruf  Kapital
10
3.
Pemenggalan Kata
10
4.
Pengunaan Singkatan
10
5.
Penggunaan Kata ulang
10
Jumlah
100


Instrumen yang diberikan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol sebelumnya diujicobakan. Uji coba tersebut dimaksudkan agar dapat memenuhi persyaratan sebagai instrumen yang baik. Dua dari persyaratan penting instrumen yang baik adalah validitas dan reabilitasnya harus tinggi.
1.  Analisis Validitas Butir Soal
              ‘Cara untuk mencari koefisien validitas alat evaluasi adalah dengan menggunakan rumus korelasi product Moment memakai angka kasar atau Raw scare’ Suherman (dalam Farida: 2011: 41).
                 rxy =
n∑ xy – ( ∑x) (∑y)
√ ( n ∑ x² - (∑x)² ) (n∑y² - (∑y) ²)

Keterangan
n          =  Jumlah soal
x          = Skor dari tiap soal
y          = Skor Total
rxy       = Koefisien Korelasi
      Dalam hal ini  rxy diartikan sebagai koefisien validitas yang sebelumnya merupakan interpretasi dari Guild Fort  J.P (Farida: 2011: 41) mengenai kategori koefisien korelasi kriteria tersebut digunakan untuk menentukan tingkat (derajat) validitas alat evaluasi. Kriteria tersebut adalah sebagai berikut:
0,90  ≤  rxy  ≤ 1,00                  Validitas sangat tinggi
0,70  ≤  rxy  ≤ 0,90                 Validitas tinggi
0,40  ≤  rxy  ≤ 0,70                  Validitas cukup
0,20  ≤  rxy  ≤ 0,40                  Validitas kurang
0,00  ≤  rxy  ≤ 0,20                  Tidak valid

2.  Reabilitas Soal
  Reabilitas suatu alat ukur atau alat evaluasi dimaksudkan suatu alat yang memberikan hasil yang tetap sama atau disebut juga konsisten atau ajeg. Adapun rumus untuk mencari koefisien reabilitas tes bentuk uraian yaitu sebagai berikut:
r 11 =
n
n- 1

1-
∑ s1²
St²
                                          Suherman (Farida, 2011: 42)
Keterangan
R11                  = Koefisien reabilitas
n                      = banyak butir soal (item)
∑ s1²                 = jumlah varians skor setiap item, dan

St²                   = varians skor ideal.

E. Teknik Analisis Data
            Data yang diperoleh dari penelitian ini adalah data kuantitatif.  Data kuantitatif adalah data yang berkenan dengan peningkatan kemampuan menulis surat pribadi siswa.
            Data kuantitatif diperoleh dari uji statistik yang dilakukan adalah:
a.  Uji Normalitas           
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data dan sampel yang berasal dari kedua kelas berasal dari populasi yang berdistributif normal.

c.       Uji Homogenitas
Jika data yang dianalisis berdistribusi normal maka dilanjutkan dengan uji homogenitas varians kedua kelas. Uji ini dilakukan untuk mengetahui apakah data yang ada memiliki varians yang homogen. Uji homogenitas dilakukan untuk menentukan statistik uji dua rata-rata yang akan digunakan.
d.      Uji Perbedaaan Dua Perata
Jika data yang berasal dari populasi yang berdistribusi normal dan memiliki varians yang homogen, maka pengolahan data dilanjutkan dengan pengujian perbedaan dua perata dengan uji t.













BAB IV
ANALISI DATA
Pada bab ini kan di uraikan hasil penelitian, yang terdiri atas deskripsi data, analisis data, pengujian hipotesis dan pembahasan.
A. Deskripsi Data
Data penelitian ini diperoleh dari sampel yang berjumlah 80 siswa yang dibagi dalam dua kelas yaitu kelas eksperimen sebanyak 40 siswa dan kelas kontrol sebanyak 40 siswa. Data tersebut terdiri dari nilai uji petik kerja dalam menulis surat pribadi siswa kelas VIII MTs. Nurul Hidayah Kerta Tahun Pelajaran 2010/2011. Skor hasil kemampuan menulis surat pribadi dengan menggunakan tanda baca yang baik dan benar adalah dengan rentang 0-100.
2.      Realisasi Kemampuan Menulis Surat Pribadi dengan Pembelajaran Tanda Baca
                  Data yang diperoleh dari nilai hasil belajar menulis surat pribadi dengan pembelajaran tanda baca dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan berkisar antara 40 - 93 dengan nilai tertinggi 93 dan nilai terendah 40.  Diperoleh rata-rata hitung sebesar 71,85, rentang sebesar 53, mean sebesar 72, median sebesar 74,24, modus sebesar 79,64 dan standar deviasi sebesar 12,79.  Pesebaran nilai hasil belajar menulis surat pribadi dengan pembelajaran tanda baca dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan siswa MTs. Nurul Hidayah Kerta Kelas VIII Tahun Pelajaran 2010/2011 dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 4.1
Pesebaran Nilai Kemampuan Menulis Surat Pribadi
dengan Pembelajaran Tanda Baca
Rata-rata hitung
Rentang Nilai
Mean
Median
Modus
Standar Deviasi
71,85
53
72
74,24
79,64
12,79

Dari 40 siswa dalam kelas eksperimen yang mendapat pembelajaran tanda baca memperoleh nilai diatas rata-rata adalah 24 orang atau sekitar 60 %, sedangkan siswa yang memperoleh nilai dibawah rata-rata adalah 16 orang atau sebanyak 40 %.  Dari hasil tersebut menunjukan  bahwa siswa yang memperoleh nilai lebih dari rata-rata lebih banyak jika dibandingkan dengan siswa yang memperoleh nilai dibawah rata-rata.  Hasil ini menunjukan  bahwa kemampuan siswa menulis surat pribadi dengan menerima pembelajaran tanda baca dalam Pedoman Umum Ejaan bahasa Indonesia Yang Disempurnakan cukup baik.  Apabila data tersebut dideskripsikan dalam bentuk tabel, maka dapat dilihat dalam tabel berikut:
Tabel 4.2
Daftar Distribusi Frekuensi Data Kemampuan Menulis Surat Pribadi dengan Pembelajaran Tanda Baca
No
Nilai
Fi
fi
Xi
Fi.Xi
Xi²
Fi.Xi²
1.
40 - 48
2
2
44
88
1936
3872
2.
49 – 57
4
6
53
212
2809
11236
3.
58 - 66
8
14
62
496
3844
30752
4.
67 - 75
7
26
71
497
5041
35287
5.
76 - 84
13
36
80
1040
6400
83200
6.
85 - 93
6
40
89
534
7921
47526
Jumlah
40


2867

211873

Apabila data tersebut digambarkan dalam bentuk grafik histogram, maka dapat dilihat dalam diagram berikut:
Diagram 4.1
Histogram dan Polygon Data Hasil Belajar Menulis Surat Pribadi
dengan Pembelajaran Tanda Baca
      Frekuensi
            20 -
            18 -
            16 -
            14 -
            12 -     
            10 -     
            8   -
            6   -
            4   -
            2   -
                                                                                                              Nilai
                        39,5   48,5   57,5  66,5   75,5   84,5   93,5
3.      Realisasi Kemampuan Menulis Surat Pribadi Tanpa Pembelajaran Tanda Baca
Data yang diperoleh dari nilai kemampuan menulis surat pribadi tanpa menerima pembelajaran tanda baca dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan berkisar antara 35 - 83 dengan nilai tertinggi 83 dan nilai terendah 35.  Diperoleh rata-rata hitung sebesar 62,95, rentang sebesar 50, mean sebesar 62,78, median sebesar 63,4, modus sebesar 65,45 dan standar deviasi sebesar 11,03.  Pesebaran nilai hasil belajar menulis surat pribadi tanpa pembelajaran tanda baca dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan siswa MTs. Nurul Hidayah Kerta Kelas VIII Tahun Pelajaran 2010/2011 dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.3
Pesebaran Nilai Kemampuan Menulis Surat Pribadi
Tanpa Pembelajaran Tanda Baca
Rata-rata hitung
Rentang Nilai
Mean
Median
Modus
Standar Deviasi
62,95
50
62,78
63,4
65,45
11,03

               Dari 40 siswa yang memperoleh nilai diatas rata-rata adalah 17 orang atau sekitar 42,5%, sedangkan yang memperoleh nilai dibawah rata-rata sebanyak 23 orang atau 57,5%.  Dari hasil tersebut menunjukan bahwa siswa yang memperoleh nilai dibawah rata-rata lebih banyak jika dibandingkan dengan siswa yang memperoleh nilai diatas rata-rata.
Apabila data tersebut dideskripsikan dalam bentuk tabel, maka dapat dilihat dalam tabel berikut:
Tabel 4.4
Daftar Distribusi Frekuensi Data Kemampuan Menulis Surat Pribadi Tanpa Pembelajaran Tanda Baca
No
Nilai
Fi
fi
Xi
Fi.Xi
Xi²
Fi.Xi²
1.
35 - 43
2
1
39
78
1521
3042
2.
44 - 52
5
4
48
240
2304
11520
3.
53 - 61
10
12
57
570
3249
32490
4.
62 - 70
14
26
66
924
4356
60984
5.
71 - 79
5
36
75
375
5625
28125
6.
80 - 88
4
40
81
324
7056
28224
Jumlah
40


2527

164385

               Dari tabel diatas  dapat dijelaskan secara rinci hasil tes kemampuan siswa menulis surat pribadi tanpa pembelajaran tanda baca adalah sebagai berikut: sebanyak 2 orang memperoleh nilai 35 – 43, siswa yang memperoleh nilai 44 – 52 sebanyak 5 orang, 10 orang memperoleh nilai 53 – 61, 14 orang memperoleh nilai 62 – 70, sementara yang menperoleh nilai 71 – 79 sebanyak 5 orang dan yang memperoleh nilai 80 – 88 sebanyak 4 orang.
Apabila data tersebut digambarkan dalam bentuk grafik histogram, maka dapat dilihat dalam diagram berikut:

Diagram 4.2
Histogram dan Polygon Data Hasil Belajar Menulis Surat Pribadi
Tanpa Pembelajaran Tanda Baca
      Frekuensi
            20 -
            18 -
            16 -
            14 -
            12 -     
            10 -     
            8   -
            6   -
            4   -
            2   -
                                                                                                              Nilai
                        34,5   43,5   52,5  61,5   70,5   79,5   89,5

3.                                                                                                      Pengajuan persyaratan Analisis
Tujuan dilakukan uji persyaratan analisis adalah untuk mengetahui pola penyebaran dari data yang diperoleh.  Dalam pengujian persyaratan analisis ini akan dilakukan uji normalitas dan homogenitas.  Pengujian normalitas dan homogenitas ini dilakukan untuk mengetahui keadaan distribusi data responden untuk diklasifikasikan kedalam kategori normal dan homogen atau tidak.

1.      Uji Normalitas Data
a. Uji Normalitas Kemampuan Menulis Surat Pribadi dengan      Pembelajaran Tanda Baca    
Tabel 4.5
Tabel Uji Normalitas
No
Interval
BK
ZHit
ZTab
L
Ei
Oi
1.
40 - 48
39,5
-2,54
0,4945
0,0274

0,0963

0,2044

0,2728

0,2301

0,1170
1,1

3,9

8,2

10,9

9,2

4,7
2

4

8

7

13

6
0,7363

0,0026

0,0049

1,3954

1,5696

0,3596
2.
49 - 57
48,5
-1,84
0,4671
3.
58 - 66
57,5
-1,13
0,3708
4.
67 - 75
66,5
-0,43
0,1664
5.
76 - 84
75,5
0,27
0,1064
6.
85 - 93
84,5
0,98
0,3365


93,5
1,68
0,4535







40
4,07

Dari hasil pengujian dengan dk = (k-3) dan taraf kepercayaan    0,95 didapat nilai X² hitung adalah 4,07 dan X² tabel 7,81.  dengan demikian, data tersebut berdistribusi normal karena masuk pada ketentuan kedua. Adapun ketentuannya adalah:
2.                                                                                                Jika X² hitung > tabel  maka data tersebut tidak berdistribusi normal
3.                                                                                                Jika X² hitung < tabel  Maka data tersebut berdistribusi normal
Dengan demikian data tersebut berdistribusi normal karena
      X² hitung < tabel  atau 4,07 < 7,81.
b. Uji Normalitas Kemampuan Menulis Surat Pribadi Tanpa      Pembelajaran Tanda Baca    
Tabel 4.6
Tabel Uji Normalitas
No
Interval
BK
ZHit
ZTab
L
Ei
Oi
1.
35 - 43
34,5
-2,25
0,4946
0,0355

0,1361

0,2760

0,3058

0,1777

0,0544
1,4

5,4

11

12,2

7,1

2,2
2

5

10

14

5

4
0,2571

0,0296

0,0909

0,2656

0,6211

1,4724
2.
44 - 52
43,5
-1,74
0,4591
3.
53 - 61
52,5
-0,93
0,3238
4.
62 - 70
61,5
-0,12
0,0478
5.
71 - 79
70,5
0,70
0,2580
6.
80 - 88
79,5
1,51
0,4345


88,5
2,32
0,4898







40
2,74

Dari hasil pengujian dengan dk = (k-3) dan taraf kepercayaan    0,95 didapat nilai X² hitung adalah 2,74 dan X² tabel 7,81.  dengan demikian, data tersebut berdistribusi normal karena masuk pada ketentuan kedua. Adapun ketentuannya adalah:
4.                                                                                                Jika X² hitung > tabel  maka data tersebut tidak berdistribusi normal
5.                                                                                                Jika X² hitung < tabel  Maka data tersebut berdistribusi normal
Dengan demikian data tersebut berdistribusi normal karena
      X² hitung < tabel  atau 2,74 < 7,81.


2.      Uji Homogenitas
Dari hasil perhitungan (lampiran) diperoleh nilai Fhitung  sebesar 1,35 dan Ftabel  (dk 39 / 39) adalah 1,72.  Dengan demikian, data tersebut adalah homogen karena F hitung < F tabel.
4.                                                                                                      Pengajuan Hipotesisi dan Pembahasan
Berdasarkan uji normalitas, diketahui bahwa kedua data tersebut berdistribusi normal dan bersifat homogen sehingga pengujian hipotesis dapat dilakukan dengan uji “t”, maka t hitung nya adalah:
t   =
       X1  -  X2
S1²   +  S2²

    n1         n2        

   =
       72  -  62,78
163,66   +  121,58

       40              40        



   =
             9,22
4,09  +  3,04


   =
9,22
2,67

  =        3,45
Uji Hipotesis
Ho : Tidak ada pengaruh kemampuan menulis surat pribadi dengan penguasaan               tanda baca.
Hi  : Ada pengaruh positif kemampuan menulis surat pribadi dengan penguasaan           tanda baca.   
Ho diterima apabila t hitung  <  t tabel
Hi diterima apabila t hitung   >  t tabel
               Berdasarkan hasil perhitungan dengan t hitung   3,45 dan t tabel  1,68 (perhitungannya lihat lampiran) uji hipotesis melalui uji t berarti Ho yang menyatakan tidak ada peningkatan kemampuan menulis surat pribadi dengan penguasaan tanda baca ditolak.  Dan ini berarti Hi diterima karena ada peningkatan kemampuan menulis surat pribadi dengan penguasaan tanda baca. Dengan begitu bisa dibuktikan bahwa ada perbedaan kemampuan siswa dalam  menulis surat pribadi dengan memperoleh pembelajaran tanda baca dengan kemampuan siswa dalam menulis surat pribadi tanpa memperoleh pembelajaran tanda baca.












BAB V
KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN
B.     Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif antara penguasaan tanda baca terhadap kemampuan menulis surat pribadi siswa, karena kemampuan menulis surat pribadi siswa lebih tinggi dengan pembelajaran tanda baca dibandingkan kemampuan menulis surat pribadi siswa tanpa pembelajaran tanda baca.  Respon positif ini akan berdampak pada kreatifitas dan motivasi siswa dalam meningkatkan kemampuan menulis surat pribadi siswa.
C.    Implikasi
Dengan nelihat kesimpulan diatas, dapat diketahui bahwa kemempuan menulis surat pribadi siswa kelas VII MTs. Nurul Hidayah Kerta tahun pelajaran 2010/2011 berhubungan erat dengan pembelajaran tanda baca yang diberikan.  Hal ini menunjukan penguasaan tanda baca memiliki peranan penting terhadap kemampuan menulis surat pribadi siswa.  Oleh karena itu, pembelajaran tanda baca hendaknya harus terus di intensifkan sehingga dapat dikuasai oleh siswa.
D.    Saran
Berdasarkan hasil penelitian, saran dari penulis bahwa untuk meningkatkan kemampuan menulis surat pribadi siswa diperlukan penguasaan tanda baca yang baik, oleh karena itu pembelajaran tanda baca harus diintensifkan sehingga siswa dapat menguasainya dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Pratama, Bagas. (2008) Surat Menyurat Bisnis Modern ( Junior) Edisi Lengkap. Bandung:Pustaka Setia
Tim Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. (2001) Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan cetakan 24. Jakarta: Balai Pustaka
-------------(2008) Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia
Arikunto, S. (2003) Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek. Edisi Revisi VI.
                     Jakarta: Rineka cipta.
Sudjana, (2002) Metode Statistik edisi 6. Bandung: Tarsito
Sugiyono, (20098) Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif dan R dan D.
                     Bandung: Alfabeta

        
     
           

















LAMPIRAN
















I.   Realisasi Kemampuan Menulis Surat Pribadi dengan Pembelajaran   Tanda Baca
Daftar Nilai kemampuan menulis surat pribadi dengan Pembelajaran   Tanda Baca
No
Siswa
No
Siswa
No
Siswa
No
Siswa
1
65
11
91
21
90
31
77
2
80
12
65
22
60
32
70
3
75
13
70
23
87
33
53
4
57
14
80
24
85
34
82
5
76
15
40
25
65
35
72
6
67
16
82
26
80
36
79
7
58
17
84
27
84
37
60
8
50
18
55
28
79
38
80
9
90
19
93
29
82
39
75
10
60
20
70
30
59
40
47

               Menentukan nilai mean, modus dan standar deviasi untuk nilai kemampuan menulis surat pribadi dengan pembelajaran tanda baca.
1.   Mengurutkan data dari nilai terendah sampai nilai tertinggi
            40,47,50,53,55,57,58,59,60,60
            60,65,65,65,67,70,70,70,72,75
            75,76,77,79,79,80,80,80,80,82
            82,82,84,84,85,87,90,90,91,93
2.   Rentang
              R = data tertinggi – data terendah
                = 93 – 40 = 53.
3.   Banyak kelas
   Banyak kelas     = 1 + 3,3 ( log n )
                                  = 1 + 3,3 ( log 40 )
                                  = 1 + 3,3 ( 1,6 )
                             K  = 6,28 » 6,3 ( k diambil 6 ).
4.   Menentukan panjang kelas
P =
R
K
53
6
= 8,83
( k diambil 9).
                Menentukan kelas – kelas interval
40  -  48
49    -  57
5 8  - 66
67  -  7 5
76  -  84
85  -  93.
     5.   Tabel
Daftar Distribusi Frekuensi Data Kemampuan Menulis Surat Pribadi   dengan Pembelajaran   Tanda Baca
No
Nilai
Fi
fi
Xi
Fi . Xi
Xi²
Fi . Xi²
1
40-48
2
2
44
88
1936
3872
2
49-57
4
6
53
212
2809
11236
3
58-66
8
14
62
496
3844
30752
4
67-75
7
26
71
497
5041
35287
5
76-84
13
36
80
1040
6400
83200
6
85-93
6
40
89
534
7921
47526
Jumlah
40


2867

211873
    
     6.   Mean  (Rata – rata)
         ∑ Fixi
 X  =
           ∑  Fi
       2867
  =
      40

=   72.

    7.  Median
Me  =    Bb  + P    (½ n  -  F)
                                     f
= 66,5 + 9 ( 20- 14 )
                      7
=   66,5 + 9 ( 0,86 )

=   74,24.

    8.  Modus      

Mo         =  Bb +   P                -                 
               =  75,5  + 9
               =  75,5  +  9 ( 0,46 )
               =  79,64.




      9.  Standar Deviasi
                     n∑Fixi²  -  ( ∑Fixi )²
  S²     =
                             n ( n – 1)

                 =  8475000  -  8219689
41  ( 39 )

                          =    255311
                                 1560

          S²             =   122,49

           S             =    11,07.


Histogram dan polygon nilai Kemampuan Menulis Surat Pribadi   dengan Pembelajaran   Tanda Baca
      Frekuensi
            20 -
            18 -
            16 -
            14 -
            12 -     
            10 -     
            8   -
            6   -
            4   -
            2   -
                                                                                                              Nilai
                        39,5   48,5   57,5  66,5   75,5   84,5   93,5
       Pengajuan Persyaratan Analisis
a.       Uji Normalitas
Uji Normalitas Data Kemampuan Menulis Surat Pribadi dengan pembelajaran Tanda Baca
No
Interval
BK
ZHit
ZTab
L
Ei
Oi
1.
40 - 48
39,5
-2,54
0,4945
0,0274

0,0963

0,2044

0,2728

0,2301

0,1170
1,1

3,9

8,2

10,9

9,2

4,7
2

4

8

7

13

6
0,7363

0,0026

0,0049

1,3954

1,5696

0,3596
2.
49 - 57
48,5
-1,84
0,4671
3.
58 - 66
57,5
-1,13
0,3708
4.
67 - 75
66,5
-0,43
0,1664
5.
76 - 84
75,5
0,27
0,1064
6.
85 - 93
84,5
0,98
0,3365


93,5
1,68
0,4535







40
4,07

Keterangan :
Bk = Batas Kelas
L   =  Luas Kelas Interval
Ei  =  Frekwensi Ekspektasi
Oi  = Frekwensi Harapan
b.   X² hitung
X ² =                                     

( 2–1,1 )² +  (4–3,9)² + (8–8,2)² +  (7–10,9)² + (13–9,2)² +    (6+4,7)²
             1,1               3,9             8,2             10,9              9,2                4,7
      =    0,7363 + 0,0026  + 0,0049  + 1,3954  +  1,5696  + 0,3596
      =    4,07.
c.  dk   =    k -3
            =    6 - 3
           =   3.
X ² table dengan taraf signifikan 5%  ( 0,005 ) dan dk = 3 diperoleh X ² table ( 0,95 ) (3) = 7,81.
X ² hitung = 4,07 dan X ² table = 7,81 jadi, X ² hitung < X ² table.
Kriteria uji normalitas
Jika X ² hitung < X ² table maka data berdistribusi normal
Jika X ² hitung > X ² table maka data tidak berdistribusi normal.
II.  Realitas Kemampuan Menulis Surat Pribadi Tanpa Pembelajaran Tanda     Baca    
Daftar Nilai Kemampuan Menulis Surat Pribadi Tanpa      Pembelajaran Tanda Baca
No
Siswa
No
Siswa
No
Siswa
No
Siswa
1
42
11
35
21
65
31
47
2
79
12
70
22
50
32
65
3
83
13
72
23
75
33
70
4
60
14
75
24
69
34
60
5
63
15
67
25
67
35
60
6
57
16
65
26
52
36
62
7
80
17
59
27
70
37
60
8
70
18
45
28
55
38
65
9
60
19
70
29
60
39
70
10
45
20
82
30
55
40
62
.                       Menentukan nilai mean, median modus dan standar deviasi untuk data kemampuan menulis surat pribadi tanpa pembelajaran tanda baca..
1.   Mengurutkan data dari nilai terendah sampai nilai tertinggi.
35,  42,  45,  45,  47,  50,  52,  55,  55,  57
59,  60,  60,  60,  60,  60,  60,  62,  63,   65
65,  65,  65,  67,  67,  69,  70,  70,   70,   70
70,  72,  75,  75,  76,  79,  80,   80,   82,  83.
2.   Rentang
R = Data tertinggi – Data terendah
    =  83  -  35 
    =   52.
3.    Banyak Kelas
 Banyak kelas = 1 +  3,3 ( Log n )
                        = 1  + 3,3 ( log 40 )
                        = 1  +  3,3 ( 1,6)
                    K = 6,25 ( K diambil 6 ).
4.    Menentukan Panjang Kelas
 P = 55   =  8 , 7 ( P diambil 9 ).
       K       6
Menentukan Kelas – kelas interval.
35   -   43
44   -   52
53   -   61
62   -   70
71   -   79
80   -   88.
5. Tabel
Daftar Distribusi Frekuensi Data Kemampuan Menulis Surat Pribadi Tanpa Pembelajaran Tanda Baca
No
Nilai
Fi
fi
Xi
Fi . Xi
Xi²
Fi . Xi²
1
35-43
2
2
39
78
1521
3042
2
44-52
5
4
48
240
2304
11520
3
53-61
10
12
57
570
3249
32490
4
62-70
14
26
66
924
4356
60984
5
71-79
5
36
75
375
5625
28125
6
80-88
4
40
81
324
7056
28224
Jumlah
40


2511

164385

6Mean (Rata – rata)
X         =  ∑FiXi
           ∑ Fi

            = 2511
                 40

            = 62,78.

     7.   Median
  Me  =    Bb  + P    (½ n  -  F)
                                     f
= 61,5 + 9 ( 20- 17 )
                      14
=   61,5 + 9 ( 0,21 )

=   63,4.

      8.    Modus      

    Mo         =  Bb +   P                -
                                                                          
             
                   =  61,5  + 9
          

                   =  61,5  +  9 ( 0,44 )
                   =  65,45.

      9.    Standar Deviasi
                     n∑Fixi²  -  ( ∑Fixi )²
    S²     =
                             n ( n – 1)

                 =  6575400  -  6305121
       40 ( 39 )

                          =    270279
                                 1560
             S²          =   163,67

             S           =     12,79.




















Histogram dan Polygon Data Hasil Belajar Menulis Surat Pribadi
Tanpa Pembelajaran Tanda Baca
      Frekuensi
            20 -
            18 -
            16 -
            14 -
            12 -     
            10 -     
            8   -
            6   -
            4   -
            2   -
                                                                                                              Nilai
                        34,5   43,5   52,5  61,5   70,5   79,5   89,5
 Penggunaan Persyaratan Analisis
a.  Uji Normalitas
Uji Normalitas Kemampuan Menulis Surat Pribadi Tanpa Pembelajaran Tanda Baca .
No
Interval
BK
ZHit
ZTab
L
Ei
Oi
1.
35 - 43
34,5
-2,25
0,4946
0,0355

0,1361

0,2760

0,3058

0,1777

0,0544
1,4

5,4

11

12,2

7,1

2,2
2

5

10

14

5

4
0,2571

0,0296

0,0909

0,2656

0,6211

1,4724
2.
44 - 52
43,5
-1,74
0,4591
3.
53 - 61
52,5
-0,93
0,3238
4.
62 - 70
61,5
-0,12
0,0478
5.
71 - 79
70,5
0,70
0,2580
6.
80 - 88
79,5
1,51
0,4345


88,5
2,32
0,4898







40
2,74

Keterangan :
Bk = Batas Kelas
L   =  Luas Kelas Interval
Ei  =  Frekwensi Ekspektasi
Oi  = Frekwensi Harapan
b.   X² hitung
 X ² =                                    

      =   ( 2–1,4 )² +  (5–5,4)² +  (10–11,)²+ (14–12,2)² + (5–7,1)²+ (4+2,2)²
                 1,4              5,4             11            12,2               7,1            2,2
      =    0,2571 + 0,0296  + 0,0909  + 0,2656 +  0,6211 + 1,4727
      =    2,74.
     c.  dk    =    k -3
            =    6 - 3
           =      3.
d.      X ² table dengan taraf signifikan 5%  ( 0,005 ) dan dk = 3 diperoleh X ² table (0,95) (3) = 7,81.
      e.   X ² hitung = 2,74 dan X ² table = 7,81 jadi, X ² hitung < X ² table.
      f.   Kriteria uji normalitas
Jika X ² hitung < X ² table maka data berdistribusi normal
Jika X ² hitung > X ² table maka data tidak berdistribusi normal.
III. Tes Homogenitas
      Setelah diajukan uji homogenitas dan ternyata diketahui bahwa kedua variabel tersebut berdistribusi normal, maka selanjutnya dilakukan uji homogenitas.
a. F Hitung.           =   Vb²
                                         Vk²

                             =    163,67
                                          122,49
                                    =    1,34.
      b. dk1                    =    n   1  -  1                          
                                    =    40  -   1
                                    =    39.            
          dk2                    =    n   2  -  1
                                    =    40  -   1
                                    =    39.
     
      c.    F Tabel dengan taraf signifikan 5 % ( 0,05)( 39 / 39 ) adalah:
   F 0,05  ( 30 / 38 )= 1,76
                                                   F 0,05 (39/39) =1,76  -  8  /  10 ( 0,05 )= 1,72.
   F 0,05 (  40 / 38 )= 1,71
d.   F hitung =  1,34 dan F table = 1,72 dengan demikian F hitung < F table
e.   Kriteria uji homogenitas adalah:
Jika F hitung < F table maka kedua variabel Homogen
Jika F hitung > F table maka kedua variabel tidak homogen.

IV. Pengajuan Hipotesis dan Pembahasan.

Berdasarkan uji normalitas, diketahui bahwa kedua data tersebut  berdistribusi normal dan bersifat homogen  sehingga pengujian hipotesis dapat dilakukan dengan uji “t”,

Hipotesis:
H0 :   Tidak ada peningkatan kemampuan siswa menulis surat pribadi dengan pembelajaran tanda baca.
H1 : Ada peningkatan kemampuan siswa menulis surat pribadi dengan pembelajaran tanda baca.
Uji Hipotesis
                 X1 – X2
      t =           S1² +  S2²
                     n1        n2
   
        =    72      –   62,76
              63,67  +   122,49
             40            40
        =         9,22
             4,09  + 3,06
        =         9,22
                  2,67
        =         3,45.
         Kriteria Pengujian
   Terima H0 bila t hitung < t Tabel
   Terima Hi bila t hitung > t Tabel
   Menghitung Nilai t table
   Dengan taraf 5 % ( 0,05 )
   Dk = n – 2 = 40 – 2 = 38, akan dicari t 0,95 (38)
  t 0.95 ( 30 ) = 1,70
                                                Maka t 0,95 ( 38 ) =1,70 – 8 / 10 ( 0,02 ) = 1,68.
  t 0,95 ( 40 )  = 1,68

                       
                        Berdasarkan hasil perhitungan, dengan t hitung 3,45 dant Tabel 1,68 uji hipotesis melalui uji t berarti H0 yang menyatakan tidak ada peningkatan kemampuan siswa menulis surat pribadi dengan pembelajaran tanda baca ditolak. Hal ini berarti terima H1 bahwa  ada peningkatan kemampuan siswa menulis surat pribadi dengan pembelajaran tanda baca . Hal ini juga berarti ada perbedaan kemampuan siswa menulis surat pribadi dengan pembelajaran tanda baca dengan kemampuan siswa menulis surat pribadi tanpa pembelajaran tanda baca.















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar